padangan ahli tasawuf



Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)
Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.
Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)
Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195
Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)
Imam Shafi’i :  ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]
Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :
“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)
Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)
Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)
Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.
Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]
Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)
Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].
Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)
Dalam suratnya al-Maqasid :  “Ciri jalan sufi ada 5 :  menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi :  “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]
Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)
Ibn Khaldun :  “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]
Tajuddin as-Subki
Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.
Jalaluddin as-Suyuti
Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”
Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE)
Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.
Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf
Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo: “Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”
Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)
Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh” ‘
Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE)
Dari Mu ammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn c’Abdul Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan.” Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya”
Ibn ‘Abidin
Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].
Shaikh Rashid Rida
Dia berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”
Abul ‘Ala Mawdudi
Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

TASAWUF

Muqoddimah Allah SWT telah menciptakan manusia dgn sesempurna mungkin. Kemudian Allah SWT turunkan para nabi-Nya utk membimbing mereka kearah jalan yg benar. Seluruh rangkaian kenabian ditutup dgn diutusnya Nabi Muhammad SAW dilengkapi dgn petunjuk Al Qur`an utk seluruh ummat manusia dimana nabi-nabi sebelumnya hanya diutus kepada kaumnya yg jumlahnya menurut informasi Nabi SAW berjumlah 124.000 nabi alaihissalaam . Rasulullah SAW menanamkan Islam kepada pengikutnya di Makkah dan kemudian menyebar ke Madinah selanjutnya berkembang ke semenanjung jazirah Arab sampai wafatnya beliau. Kemudian kendali pemerintahan Islam dilanjutkan oleh para khulafaurrosyidin sehingga da`wah semakin meluas dan penaklukan kota dan negara semakin luas sehingga banyak bergesekan dgn budaya lokal serta adat istiadat non Islam yg tidak jarang pada masa-masa berikutnya terjadi akulturasi . Kalau pada abad pertama pertahanan aqidah dan syariat sangat kuat sehingga pengaruh budaya dan pemikiran dari luar Islam tidak dapat mempengaruhi kehidupan ummat Islam. Tetapi pada abad kedua diketemukan nilai-nilai Islam yg semakin mengendor dan kehidfupan semakin mewah pada saat itu banyak upaya mengadopsi pemikiran dan budaya luar kedalam budaya dan pemikiran Islam. Diantara pemikiran luar yg masuk kedalam budaya Islam adl tasawuf. Makanya istilah tasawuf tidak dikenal pada generasi pertama tidak pula tertera dalam Al Qur`an maupun hadits. Sehingga Ibnu Kholdun sejarawan muslim terkemuka mengatakan ” Sesungguhnya perkembangan tasawuf terjadi pada abad kedua dimana keadaan manusia bergelimang dunia maka sejumlah orang meninggalkan kemewahan itu dan melakukan hidup zuhud dan ibadah maka mereka disebut sufiyah”}. Maka para ulama membuat landasan bahwa Islam telah sempurna dan konsep apapun harus diukur dgn Al Qur`an dan As Sunnah manakala bersesuaian dgn Islam diambil manakala bertentangan harus ditolak. Demikian halnya dgn tasawuf marilah kita lihat sejauh mana jauh dekatnya dgn Islam.
Definisi Tasawuf Para ulama dan peneliti tidak ada yg sepakat asal usul kata tasawuf paling tidak ada tujuh perbedaan ;
1. Dari kata yg berarti bersih seperti kata Mahmud Amin An-Nawawy Artinya; “Segolongan ahli tasawuf berkata bahwasanya pemberian nama menjadi sufiyah krn kesucian rahasianya dan kebersihan kelakuannya.”
2. Istilah sufi adl nama yg dinisbatkan kepada kata yg bentuk jama`nya berarti shaf atau barisan. Hal ini sesuai dgn keterangan Mahmud Amin An-Nawawy yg mengatakan ” Segolongan berkata; bahwasanya mereka menamakan shufiyah krn mereka berada pada posisi shaf yg terdepan disisi Allah `Azza Wa Jalla dgn ketinggian cita-citanya kepada-Nya dan utk bertemu dengan-Nya serta hatinya selalu tegak disisi-Nya.”
3. Istilah sufi adl nama yg dinisbatkan kepada perkataan yg diberikan kepada orang-orang Shufi dimasa Rasulullah SAW krn mereka menempati gubuk-gubuk yg telah dibangun oleh Rasulullah SAW disekitar masjid Madinah. Hal ini sesuai dgn keterangan Abul`Alaa`Afiefy yg mengatakan ” Shufi berkaitan dgn Ahlush Shuffah; yaitu nama yg dikhususkan kepada beberapa Fakir-Muslim pada masa permulaan Islam. Mereka itu termasuk orang-orang yg tidak memiliki rumah. Maka mereka menempati gubuk yg telah dibangun oleh Rasulullah SAW diluar Masjid Madinah”.
Tetapi Mahmud Amin An-Nawawy mengatakan “Segolongan berkata Bahwasanya mereka menamakan dirinya Shufiyah krn sifat-sifatnya mirip dgn sifat-sifat Ahlus Shuffah yg dimasa Rasulullah SAW “.
4. Istilah sufi adl nama yg dinisbatkan kepada kata yg artinya bulu atau wol. Karena orang-orang Tasawuf pada umumnya mengkhususkan dirinya dgn memakai pakaian yg berasal dari bulu domba. Hal ini dikatakan oleh Qusyairy ” Adapun orang-orang yg mengatakan bahwa berasal dari kata Shuuf adl dia berpakaian Shuuf jika ia memakai baju bulu; sebagaimana dikatakan dia berpakaian kemeja bila memakai kemeja”.
5. Istilah sufi adl nama yg dinisbatkan kepada kata yg artinya pilihan . Hal ini dikatakan oleh Yusuf bin Al-Husein “Setiap umat terdapat orang-orang pilihan ; dan mereka adl titipan Allah yg tersembunyi dari makhluk-Nya Apabila terdapat orang-orang tersebut pada ummat ini maka mereka itulah Shufiyah”.
6. Istilah sufi adl nama yg dinisbatkan kepada keterangan Karena pada umumnya orang-orang tasawuf menonjolkan dirinya dgn menunjukkan sifat-sifatnya yg terpuji. Hal ini diterangkan oleh Mahmud Amin An-Nawawy ” Pernah Asy Syibly ditanya Mengapa orang-orang Shufi dinamakan Shufi ? Ia menjawab Karena padanya terlukis adanya gambaran dan ketetapan sifat ?.
7. Istilah sufi adl nama yg dinisbatkan kedalam bahasa Yunani; dari kata “Sopos” atau “Sapis” yg dapat diartikan dgn “Ahli Mistik”. Hal ini sesuai dgn keterangan Yoseph Founhamer dan Tholuck yg diterjemahkan oleh Abul `Alaa `Afiefy kedalam bahasa Arab yg artinya ” ?dan sesungguhnya ada dua macam kata bahasa Arab “Shufiyyu” dan “Shaafiyyu” bersumber dari kata asli bahasa Yunani dari kata “Sopos” dan “Sapis” “.
Banyak penulis lbh cenderung mengambil pendapat Al-Qusyairy sebagai pendapat yg paling kuat dari seluruh pendapat tersebut dimuka. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yg paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yg paling menonjol dan gampang diketahui pada orang Tasawuf adl pakaian wolnya maka ia dinamakan Shufi .
Sejarah perkembangan Tasawuf Sebagaimana telah kami kemukakan didepan bahwa istilah tasawuf tidak dikenal dimasa Nabi SAW dan para sahabatnya. Tetapi yg dikenal adl zuhud dan wara` . Istilah sufi pertama kali digunakan yaitu kepada Abu Hasyim Al Kufi dan ia orang yg pertama kali membangun tempat ibadah khusus bagi sufi di Ramlah wilayah Syam . Meskipun demikian orang sufi selalu menisbatkan tasawuf kepada Nabi SAW melewati Ali dilanjutkan oleh Hasan Al-Basri dst.
Sederetan nama sahabat yg menjadi rujukan ahli tasawuf ; Abu Bakar As-Shidiq Umar bin Khattab Utsman bin Affan Ali bin Abi Thalib Salman Al Farisi Abu Dzar Al Ghifari Miqdad bin Al Aswaddll.
Kemudian pada masa tabiin terkenal nama Hasan Al Basri dan Sofyan Al-Tsauri . Baru kemudian murid-murid Abdul Wahid bin Yazid pengikut Hasan Al Basri membangun tempat khusus utk warga sufi disebut duwairah demikian pendapat Ibnu Taimiyah .
Pada abad kedua dikenal nama-nama Ibrahim bin Adham Al Balakhi dan Rabiah Al Adawiyah . Ciri menonjol pada pengikut Hasan Al Basri adl rasa takut yg berlebih kepada Allah selain zuhud dan banyak ibadah sementara pada Rabiah Al Adawiyah lbh menonjol rasa muhabbah kepada Allah SWT. Sementara para ulama menyebutkan perlunya keseimbangan agar tidak menyimpang kata mereka “Barang siapa menyembah Allah SWT hanya dgn rasa muhabbah saja dia menjadi zindik barangsiapa menyembah Allah SWT hanya dgn rasa takut maka dia menjadi khawariij dan barang siapa menyembah Allah SWT dgn harapan maka dia menjadi murjiah dan barang siapa menyembah Allah SWT dgn cinta rasa takut dan harapan maka ia mukmin sejati”. .
Pada abad ketiga tasawuf semakin solid dan berkembang dgn tokoh sentral Abu Sulaiman Addaaroony Ahmad Al Hawary Abul Faidh Zunnun Al Misri Bisyir Al Hafi Abu Bakar Al-Syibli Al Haris Al Muhasibi Assirri Assiqthi Abul Yazid Al Busthami Al-Junaid dan Al Hallaj .
Pada masa ini dan sesudahnya tasawuf berkembang menjadi kelompok-kelompok yg ditokohi oleh seorang syaikh. Seperti diungkap oleh Al Hajwairi ” Pada masa itu lahirlah tarekat-tarekat sufi berjumlah duabelas dan masing-masing menisbatkan dirinya kepada seorang syaikh dari syaikh-syaikh abad tiga dan empat”.
Pada abad keempat tasawuf lbh berkembang lagi sehingga mereka menyebutkan dirinya sebagai ahli hakekat/ bathin sementara ulama lain terutama ulama fiqh disebut sebagai ahli dhohir. Pada masa inilah trend sufi ditetapkan mempunyai empat tahapan atau empat ilmu ;
    Ilmu syariah
    Ilmu Tariqoh
    Ilmu Hakekat
Ilmu Ma`rifat
Pada abad kelima dan seterusnya tasawuf sangat dipengaruhi oleh paham syiah dan filsafat.
Ajaran Sufi Ajaran sufi mengandung usaha mujahadah dan riyadhoh dimana seorang salik harus melewati maqomat dan ahwaal. Maqomat menurut Assarraj Aththusi dalam kitab Alluma` yaitu kondisi ketaatan seorang hamba dihadapan Allah .Maka dia menyebut maqom berupa taubat wara` zuhud . Kemudian salik akan mendapatkan ahwaal yaitu kondisi hati yg bersih krn banyak berdzikir berupa muroqobah tenang menyaksikan kebesaran Allah yakin dll.
Ajaran sufi yg paling banyak ditentang adl konsep hulul yg dicetuskan oleh Abu Yazid Al Busthami dimana Allah masuk kedalam diri seorang sufi sehingga dia mengucapkan syatahat yaitu ungkapan-ungkapan irrasional yg tidak bisa dipahami layaknya orang gila. Hal itu ditentang oleh para ulama krn dianggap bertentangan dgn aqidah Islam dan ajaran seperti itu tidak dikenal dimasa Nabi SAW dan para sahabatnya. Konsep kedua yg ditentang adl wihdatul wujud menyatu dgn Allah SWT. Konsep ini dicetuskan oleh Al Hallaj yg ditentang oleh ulama-ulama dimasanya kemudian dia diajukan kepengadilan krn tidak mau bertaubat akhirnya dihukum mati. Dan ajaran ini dikembangkan oleh Mahyuddin Ibnu Arabi dan dia dikafirkan oleh para ulama yg berjumlah lbh dari 37 orang ulama besar termasuk imam Nawawi. Diantara ajaran/ pendapat Ibnu Arabi dan pengikutnya antara lain ;
    • Wali lbh tinggi dari Nabi
      Untuk sampai kepada Allah tidak perlu mengikuti ajaran Nabi . .
      Semua ini adl Allah tidak ada nabi/Rasul atau malaikat. Allah adl manusia besar
      Tidak sah khilafah kecuali insan kamil
      Allah membutuhkan pertolongan makhluk
      Nabi Nuh A.s termasuk orang kafir
      Da`wah kepada Allah adl tipu daya
      Al Haq adl Al Khalq
      Kesatuan muthlaq adl agamanya .
      Hukum alam adl Allah itu sendiri.
      Hamba adl Tuhan
      Neraka adl syurga itu sendiri
      Al Qur`an mempunyai dua arti yaitu lahir dan batin
      Dalam anggapannya dia berkumpul dgn para nabi
      Perbuatan hamba adl perbuatan Allah itu sendiri
      Ad-Dhal adl al-muhtadi Al Kafir adl Al Mukmin.
      Orang-orang kafir tidak akan diazab oleh Allah sama sekali.
      Kebenaran berjalan atas unsur-unsur kebendaan/alam.
      Hawa nafsu adl Tuhan terbesar
      Fir`aun adl mukmin dan terbebas dari siksa neraka
      Wanita adl Tuhan
      Hakekat ke-Tuhanan tampak jelas dan utuh pada Nabi-nabi a.s
      Fir`aun adl Tuhan Musa
      dll
  • Demikianlah pendapat-pendapat Ibnu Arabi dan pengikut-pengikutnya yg kacau balau dan jelas bertentangan dgn Al Qur`an dan sunnah bertebaran dalam kitab-kitab yg mereka tulis. Langkah-langkah utk menjadi Sufi
Langkah-langkah utk menjadi Sufi Sebagaimana sudah maklum bahwa menurut pandangan sebagian sufi apabila seorang muslim ingin menjadi seorang sufi maka ia harus menjalani langkah-langkah sbb;
1. Syariat. Dalam tataran ini muslim yg bersangkutan harus belajar fiqih yg meliputi ibadah muamalah munakahat mewaris jinayat dan khilafah . Kajian fiqih yg demikian sudah dirumuskan dan dituangkan dalam “Fiqih Madzhab Empat”. Idealnya seorang kandidat salik yg mau memasuki tarekat hendaknya memahami dan mengerti kajian fiqih empat madzhab itu bahkan ditambah lagi dgn fiqih Jakfari yg lazimnya dianut oleh jamaah Syiah. Sekurang-kurangnya ia memahami fiqih satu madzhab misalnya fiqih Syafii. Lazimnya para sufi dalam hal fiqih ini menganut salah satu madzhab dari empat madzhab yg tersedia.
2. Tarikat. Perkataan tarikat dalam istilah tasawuf artinya wadah tempat mendidik dan melatih para salik. Komponen-komponen tarikat terdiri dari guru tarikat atau guru rohani yg disebut mursyid atau syekh. Kualitas seorang syekh harus memiliki ilmu syariat dan hakekat secara lengkap. Pemikirannya dan tutur katanya serta perilakunya dalam banyak hal harus mencerminkan akhlak yg terpuji. Salik atau murid tarikat; suluk yaitu amalan dan wirid atau perbuatan yg harus dikerjakan oleh salik berdasarkan perintah syekh; zawiyah yaitu majlis tempat para salik mengamalkan suluk. Disamping itu ada satu syarat yg harus dipenuhi oleh kandidat salik yaitu baiat antara dia dan syekh. Baiat itu sendiri ada dua macam yaitu ;
    Baiat suwariyah yaitu baiat bagi seorang kandidat salik yg hanya sekedar ia mengakui bahwa syekh yg membaiatnya ialah gurunya tempat ia berkonsultasi dan syekh itupun mengakui orang tersebut adl muridnya. Ia tidak perlu meninggalkan keluarganya utk menetap tinggal dalam zawiyah tarikat itu utk terus menerus bersuluk atau berdzikir. Ia boleh tinggal dirumahnya dan bekerja sehari-hari sesuai dgn tugasnya. Ia sekadar mengamalkan wirid yg diberikan oleh gurunya itu pada malam-malam tertentu dan bertawassul kepada gurunya itu. Ia dan keluarganya bersilaturrahmi kepada gurunya itu sewaktu-waktu pula. Apabila ia memperoleh kesulitan dalam hidup ini ia berkonsultasi dgn gurunya itu pula.
    Baiat ma`nawiyah yaitu baiat bagi seorang kandidat salik yg bersedia utk dididik dan dilatih menjadi sufi yg arif bi I-lah . Kesediaan salik utk dididik menjadi sufi itupun sudah barang tentu berdasarkan pengamatan dan keputusan guru tarikat itu. Salik yg masuk tarikat melalui baiat yg demikian harus meninggalkan anak-istri dan tugas keduniaan. Ia berkhalwat dalam zawiyah tarikat didalam penegelolaan syekhnya. Khalwat ini bisa berlangsung selama beberapa tahun bahkan belasan tahun. Muhammad Ibn Abdillah yg kemudian menjadi khatamu I-anbiya wa I-mursalin berkhalwat di Gua Hira selama 20 tahun. Ia berhenti berkhalwat sesudah ia mencapai tingkat ma`rifat dan hakikat yaitu dgn wahyu turunnya surat al-Alaq lima ayat berturut-turut yg disampaikan oleh Jibril. Pertemuannya dgn malaikat Jibril adl ma`rifat sedangkan wahyu yg diterimanya merupakan hakikat. 3. Ma`rifat. Perkataan ma`rifat secara bahasa artinya pengetahuan atau ilmu. Dalam istilah tasawuf berarti mengenal atau melihat alam ghaib seperti syurga atau neraka bertemu dgn para nabi para malaikat para auliya dll yg semuanya itu terjadi bukan dalam mimpi. Dalam hal ini saya mengajukan contoh pengalaman Syekh Muhammad Samman seorang sufi abad ke-18 di Madinah sebagaimana tergambar dalam naskah melayu yg berjudul “Hikayat Syekh Muhammad Samman”. Didalamnya ia mengatakan bahwa sesudah sholat shubuh ia merasa ruhnya keluar dari jasadnya kemudian ruhnya naik kelangit pertama hingga langit ketujuh. Disana ia bertemu dgn Nabi Ibrahim a.s dan bercakap-cakap dengannya sedangkan ia tetap dalam keadaan ingat . 4. Hakikat. Perkataan hakikat dalam istilah tasawuf ialah esensi atau pangkal dari semua alam yg maujud baik yg ghaib ataupun yg syahadah yaitu Nur Muhammad atau hakikat Muhammad tatkala Tuhan menuturkan sabda kun! maka tampillah Nur Muhammad yg merupakan mazharu-Haqqi Ta`ala. Dengan demikian maka mazhar pula zat yaitu Nur Muhammad yg berupa zat Allah ; asma yaitu nama Allah; sifat yaitu kamalu I-lah dan af `alu I-Lah . Keempat hal tersebut merupakan percikan terang dari Allah Allah pada Nur Muhammad itu . Menurut Ibn Arabi wujud Nur Muhammad ini apabila dilihat dari segi zatnya ia adl Allah tetapi apabila dilihat dari sifat-sifat dan asma-asmanya ia adl fi`il-Nya sedangkan Allah itu mahasuci dan Maha Tinggi tidak ada lafal dan kata-kata maupun kalimat yg memadai utk menyifatinya . Macam-macam Tarekat Kalau kita lihat perkembangan tasawuf dari awal tadi terlihat berbagai macam versi tasawuf dari yg benar kepada yg menyimpang dari yg sunni kepada yg bidie. Kita lihat pemaparan beberapa ulama dibawah ini . Ibnu Taimiyah membagi sufi menjadi 3 macam ;
      Sufiyah haqoiq yaitu mereka yg full timer beribadah dan berdzikir serta zuhud terhadap dunia.
      Sufiyah Arzaak yaitu mereka yg sibuk mencari rizki tetapi tetap melakukan kewajiban sebagai muslim dan meninggalkan larangan Allah SWT serta menjaga sopan santun Islam dan jauh dari bid`ah.
      Sufiyah rusuum yaitu mereka yg berpakaian seperti sufi tetapi sedikit amalannya orang kira itulah sufi tetapi mereka bukan sufi yg sebenarnya. . Al Hajwairi berpendapat sufi ada 3;
        Sufi yaitu orang yg full timer beribadah kepada Allah dan jauh dari pengaruh dunia.
        Mutasowwif yaitu orang sufi yg bermujahadah mencapai tempat pertama.
        Al Mustasawwif yaitu orang yg menyerupai sufi dari kalangan penguasa pengusaha dan kalangan elit tapi mereka tidak banyak amalnya. Sementara Arrazi membagi sufi menjadi enam;
          Ashhabul Aadat mereka yg hanya memperhatikan pakaian dan penampilan.
          Ashhabul ibadat mereka yg banyak beribadah dan jauh dari dunia.
          Ashhabul Hakikah mereka yg sudah selesai melaksanakan perintah wajib tidak melaksanakan yg sunnah tetapi berfikir terhadap ciptaan Allah dan tenggelam dgn dzikir kepada-Nya.
          Annuriyah mereka yg berpandangan bahwa hijab ada dua bersifat cahaya dan api. Bersifat cahaya merupakan upaya utk memiliki sifat-sifat terpuji sedangkan bersifat api menghindari sifat-sifat tercela seperti dengki marah tamak dll.
          Al Hululiyah mereka yg berkeyakinan hulul atau ittihad dan tidak memperhatikan peranan akal samasekali.
          Al-Mubahiyah mereka yg mengaku cinta kepada Allah SWT tetapi melanggar ajaran Allah SWT mereka ini yg paling buruk krn beranggapan Allah SWT telah mengangkat taklif kepada mereka. Sedangkan Muhammad bin Saad menyebutkan empat macam sufi;
            Zahidun wariuun yaitu mereka yg hidup secara Islam dgn zuhud dan wara`.
            Ghulat Mulhidun yaitu mereka yg berlebihan sampai ketingkat atheis.
            Mutawassilun Gholuum yaitu mereka yg berlebihan dalam bertawassul.
            Muqollidun Murtaziqun yaitu mereka yg mengaku sufi utk mendapat dunia dan pengaruh. Penilaian Untuk menghindari agar kita tidak terjerumus dalam kubangan kesesatan maka kita perlu berhati-hati dalam menilai apalagi mengikuti tasawuf agar tidak salah jalan. Nasehat pakar sufi modern Dr.Abdurrahman Badawi dalam bukunya Tarikh Tasawuf Islami menyebutkan bahwa titik tolak tasawuf itu ada tiga macam ;
              Berdasarkan Kitabullah dan Sunnar Rasulullah SAW serta salaf sholeh secara benar bukan sekedar pengakuan.
              Berdasarkan penafsiran manusiawi yg tidak jarang menyimpang.
              Berdasarkan kecenderungan pribadi terlepas dari ajaran Islam. Tentunya kita mengikuti yg pertama meskipun lbh baik kita menggunakan istilah Al Qur`an yaitu Tazkiyah . Intinya agar kita zuhud dan wara` dari kemewahan dunia dan bersungguh-sungguh mencapai keni’matan akhirat. Hal itu dgn cara mengikuti petunjuk Rasulullah SAW baik perbuatan ucapan atau persetujuannya krn petunjuk Beliau adl sebaik-baik petunjuk dan ajaran beliau telah sempurna . Wallahu A`lam.

    Martabat, Makrifat, dan Asma Allah

    Saya ingin menanyakan dalil kedudukan tasawuf dalam Islam, karena teman saya sering berbicara tentang isi ajaran tersebut. Di antara yang ingin saya tanyakan:
    1. Apa pengertian Martabat 7 ?
    2. Selain 99 Asma Allah SWT apakah ada nama yang "dirahasiakan"?
    3. Konon dlm tasawwuf orang yg telah mencapai "maqam" ini boleh meninggalkan salat, apakah benar?
    4. Terlepas dari itu semua, bagaimana cara ma'rifat kepada Allah SWT?


    Jawab:

    Tasawuf ialah bentuk kebajikan spiritual dalam Islam yang dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan syariat Islam. Jalan-jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf dikembangkan dengan tujuan membawa seorang sufi menuju pencerahan batin atau persatuan rahasia dengan Yang Satu. Jadi tasawuf sebenarnya adalah metode yang dianut dan diyakini oleh kelompok yang bernama "Sufi" dalam memahami, menjalankan dan penelusuran rohani dari agama Islam. Maka, tasawuf pada hakekatnya bukanlah suatu ibadah atau hukum yang mempunyai dalil dalam struktur agama Islam. Tasawuf lebih merupakan cara memahami dan menghayati agama, sebagaimana cara dan metode yang dilakukan oleh kelompok lain dalam Islam.

    1. Pengertian Martabat 7?
      Martabat berarti tingkatan. Dalam ajaran tasawuf seorang yang ingin mencari Tuhannya, harus melalui tingkatan-tingkatan, inilah yang disebut Martabat. Tingkatan-tingkatan ini tidak selalu berjumlah tujuh. Tergantung kepada aliran taswuf itu sendiri. Ada yang 7 ada yang lebih dari 7. Tujuh martabat yang harus dilalui oleh seorang sufi adalah : lembah pencarian (talab), cinta ('isyq), makrifat (ma'rifah), kepuasan hati (istighna'), keesaan (tawhid), ketakjuban (hayrat), kefakiran (faqr) dan inklusif (fana').

    2. Selain 99 Asma Allah SWT apakah ada nama yang "dirahasiakan"?
      "Seorang muslim sebaiknya berkeyakinan dan berakidah bahwa termasuk komponen iman kepada Allah adalah iman dengan nama-nama Allah. Yakni iman dengan nama-nama (Allah) yang diajarkan dan diberitahukan kepada kita, baik melalui al-Qur'an maupun melalui petunjuk NabiNya. Jadi nama-nama Allah itu tercantum dalam al-Qur'an maupun hadis shahih. Jumlahnya kita tidak tahu secara pasti, hanya Allah SWT yang tahu. Perspektif yang mengatakan bahwa nama Allah adalah 99 merupakan hasil ijtihad manusia dalam mengumpulkan nama-nama Allah yang tercantum dalam al-Qur'an dan hadis shahih. Dengan demikian kita ikuti saja hasil ijtihad yang ada itu, karena memang tak ada dalil yang menyatakan adanya nama yang dirahasiakan.

    3. Konon dlm tasawwuf orang yg telah mencapai "maqam " boleh meninggalkan salat. Apa benar?
      Ada kelompok-kelompok tasawwuf yang fanatik dan berlebih-lebihan. Seperti dalam menggambarkan martabat atau maqam "fana'", yang berarti inklusi antara makhluk dan Tuhannya, "manunggaling kawulo gusti" seperti yang terjadi pada kisah klasik Syeh Siti Jenar. Pada taraf demikian, seorang sufi berkeyakinan bahwa sudah tidak ada jarak lagi antara dia dan Tuhannya, karena Tuhan telah menjelma dalam dirinya, dan dirinya telah menyatu dengan Tuhan. Di sini lalu ia melihat, kalau ia sudah menyatu dengan Tuhan, lantas apa artinya ibadah yang adalah proses dan jalan mencari Tuhan.

      Namun aliran tasawwuf yang benar, pastilah yang tidak mengantarkan kepada hal-hal yang negatif, karena ajaran tasawwuf tidak lain adalah proses untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau jalan untuk bisa lebih mengenal Allah. Seorang ulama Sufi mengatakan "Mereka yang belajar tasawwuf dan tidak melalui syariat maka ia telah mendekati kekafiran".

    4. Terlepas dari itu semua, bagaimana cara ma'rifat kepada Allah SWT?
      Ma'rifat artinya mengetahui dan mengenal Allah. Panutan kita mengenal Allah adalah Nabi Muhammad saw. Beliau telah mengajarkan semuanya kepada kita cara mengenal Allah. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan amal sholeh, memperbanyak ibadah, baik yang fardhu dan yang sunnah, dan menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai keagamaan serta merenungi ciptan-ciptaaNya. Dengan itu semua kita akan dekat kepada Allah, dan dengan begitu kita akan mengenalNya. Allah senantiasa dekat dengan manusia, hanya manusia yang terkadang enggan untuk dekat atau mendekatkan diri kepadaNya.

    cara mencapai ma'rifat

    Ibarat istri,
    Syari’at itu pakainnya,
    Ma’rifat tubuhnya.

    Bagaimana caranya kita bisa Ma’rifat tapi tanpa meninggalkan syari’at?
    Ibarat buah, syari’at adalah kulit pembungkus ( sesuatu yang tanpa dari luar berupa perbuatan-perbuatan fisik ) ! sedangkan Ma’rifat adalah inti terdalam dari buah itu.
    Untuk dapat mengetahui isinya, kita perlu mengupas buah itu. Ketika buah terkupas, inilah bahayanya : Orang yang terbiasa melihat buah itu hanya dari kulitnya berteriak; “ itu bukan buah, itu tidak seperti yang kulihat sehari-hari. Kamu menipu saya!” Maka terjadilah pertentangan.
    Jadi supaya tidak ribut, jangan sekali-kali mengupas buah di depan umum. Mungkin lebih baik kita mengupasnya ketika sendirian atau hanya bersama-sama orang yang bersamaan tujuan dan siap mental melihat buah yang terkupas.
    ( maaf agak porno ) Ibarat seorang istri, syari’at adalah pakainnya, dan ma’rifat itu tubuhnya. Jangan sekali-kali membiarkan istri di luar kamar pribadi tanpa pakain, meskipun tak ada salahnya di ruang tertutup anda melihat istri anda tanpa pakaian. Jangan pula ceritakan apa yang anda lakukan dengan istri anda di dalam kamar kepada sembarang orang.
    Syari’at ibarat sholat! Kita diharuskan menghadap ka’bah! Sedangkan ma’rifat adalah sholat di dalam ka’bah. Di dalam ka’bah orang bebas menghadap kemanapun yang ia suka, tetapi jangan mencoba menghadap sembangan ketika di dalam ka’bah.
    Tarikat dalam tasauf merupakan langkah nyata menuju Ma’rifat. Tarikat adalah perbuatan nyata mengupas buah agar kita dapat bisa melihat isi buah itu, langkah nyata dalam melepas jilbab istri anda agar dapat melihat istri anda dengan nyata! Namun perbuatan itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
    Ketika tabir mulai terbuka, orang melihat sesuatu yang lain dari yang ia lihat sehari-hari! Dan reaksinya dapat saja tak terkendali. Karena itulah, dalam tarikat orang perlu diawasi oleh seorang pembimbing.
    Kalau ada orang yang “ INGIN TAU “ hanya dengan cara “ MENGINTIP “, maka ia tidak memperoleh gambaran yang sebenarnya. Saya melihat bahwa beberapa orang hanya sekedar pengintip, dan dari yang dilihatnya dianggapnya menyimpang dari syari’at itu, lalu berteriak-teriak “ kamu murtad, sok wali, sesat…….dst”.
    Orang yang kebetulan melihat orang lain sholat di dalam ka’bah dengan menghadap sekenanya, perlu menyadari bahwa di dalam ka’bah memang orang tidak lagi terikat harus menghadap kemana. Sebaliknya, orang yang telah merasakan sholat di dalam ka’bah, ketika berada di luar ka’bah harus kembali berorientasi kepada ka’bah.
    [ kalimat kiasan ini mengandung makna yang dalam dan tidak mudah dijelaskan] Mungkin itulah yang dimaksud dengan ma’rifat tanpa meninggalkan syari’at. Kalau ini petunjuk yang kongkrit, datanglah pada seorang guru Tasauf. Penjelasan dan bimbingan akan diberikan sesuai dengan keadaan anda masing-masing.
    Kemampuan untuk dapat memahami aspek esoteric agama hanya mungkin bila seseorang diberi hikmah oleh Allah dan hikmah ini dapat diupayakan melalui Tarikat, tanpa mengesampingkan fakta bahwa beberapa orang yang tidak menjalani Tarikat dan dapat diberi hikmah ( Q.S 2 : 269 ).
    Dalam Tasauf Perjalanan Spiritual, seseorang untuk mencapai Ma’rifat dapat dibagi menjadi empat tingkat. Mulai dari Syari’at,Tarikat, Hakikat, lalu Ma’rifat.
    Dalam tataran Syari’at, orang diharuskan menjalankan segala hokum dan ritual melalui perbuatan dengan patuh tanpa harus memahami maknanya. Perintah ( kewajiban ) dan larangan diterapkan dengan keras. Ini merupakn taraf awal pendisiplinan diri.
    Dalam Tarikat, dilakukan transportasi spiritual di mana orang harus bisa memusatkan diri pada pembersihan hati dan pembebasan diri dari pengaruh hawa napsu melalui disiplin yang keras di bawah pengawasan seorang guru. Latihan meditasi ( dzikir ) merupakan kegiatan sehari-hari untuk menajamkan indra ke – 6.
    Dalam hakikat, akibat ketajaman Spiritual sudah terasah, orang mampu memahami makna Syari’at. Terjadi tranportasi kesadaran dan UNLEARNING “ ( pembatalan atau penghapusan beberapa hal yang merupakan hasil belajar atau persangkaan-persangkaan sebelumnya).

    Peran Ma'rifat Dalam Mencapai Kesempurnaan

    ".Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Q.S. Az-Zumar:9)

    Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas terletak pada kualitas ma'rifat (pengetahuan) dan pola fikir mereka.
    Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan yang tinggi.

    Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan. Pesan Islam tentang pentingnya peningkatan intelektual dan keilmuan akan banyak kita dapati di berbagai rujukan tradisional yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagai contoh, hadis yang berbunyi,: "Tafakur sesaat lebih utama dibanding ibadah tiga puluh tahun."

    Sedemikian tinggi nilai ma'rifat di mata Islam, sehingga ia dikategorikan sebagai paling mulianya ibadah, yang jika dibandingkan dengan ibadah sekian puluh tahun lamanya dan tanpa didasari ilmu dan ma'rifat, maka ia jauh lebih baik dari pada ibadah tersebut.

    Allah swt dalam al-Quran menjelaskan bahwa salah satu fungsi diutusnya rasul adalah untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan pola fikir manusia, " ..dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah .." (Q.S. Jum'ah : 2).

    Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari tingkat ma'rifat si pelakunya. Jika pelaku tidak melandasi perbuatannya dengan pengetahuan atau ma'rifat, perbuatannya itu tidak bernilai sama sekali.
    Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai dengan derajat ma'rifat pelakunya. Semakin tinggi derajat ma'rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan itu secara
    lahiriah nampak remeh, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat "Tidurnya orang alim adalah ibadah."

    Di sisi lain, penekanan Islam dalam pengutamaan kualitas ibadah dibanding kuantitasnya sangat mencolok, seperti yang kita amati dari ayat 2 surat Al-Mulk: "... supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya... "

    Ayat ini menunjukkan bahwa Allah swt lebih menekankan amal yang terbaik, bukan yang terbanyak. Jelas bahwa amal terbaik adalah amal yang dilandasi dengan ma'rifat.

    Imam Abu Ja'far a.s. bersabda, "Wahai anakku! Ketahuilah bahwasanya derajat syiah (pengikut) kita akan sesuai dengan kadar ma'rifat mereka karena aku pernah melihat di dalam "Kitab Ali" (Mushaf Ali) tertulis bahwa nilai kesempurnaan seseorang ditentukan oleh kadar ma'rifat-nya" (Ma'ani al-Akhbar).

    Tentu saja, riwayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan ayat yang mengatakan, ". Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu ." (Q.S. Al-Hujurat :
    13) karena kalau ditelusuri lebih dalam lagi kita akan ketahui bahwa ketakwaan diperoleh berkat amal saleh dan amal saleh sendiri tidak akan lahir kecuali dari sumber keimanan, sedangkan keimanan ini mustahil dicapai tanpa landasannya, yaitu ma'rifat.

    Ringkasnya, ketakwaan tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu dan ma'rifat. Di samping itu, kemuliaan manusia yang dinilai dengan ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ketakwaannya tersebut; yaitu ma'rifat.

    Maka, betapa besar perhatian dan penekanan ajaran Islam terhadap nilai ilmu dan ma'rifat, sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt dalam hadis qudsi berikut ini: "Aku ibarat harta yang terpendam, maka Aku senang untuk diketahui. Oleh karena itu, Kuciptakan makhluk agar diriku diketahui" (Bihar al-Anwar).

    Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang memiliki berbagai potensi, adalah untuk ber-ma'rifat kepada Allah yang merupakan tujuan utama penciptaan. Imam Ja'far Shadiq a.s. dengan menukil riwayat dari kakek beliau, Imam Ali Zaenal Abidin a.s. menafsirkan kata "al-Ibadah" yang tercantum dalam ayat "Tidaklah Kucipta-kan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Q.S Al-hujarat : 13), bersabda, "Wahai para manusia! Sesung-guhnya Allah swt tidak menciptakan hamba-hamba-Nya
    kecuali untuk mengenal (ber-ma'rifat) kepada-Nya" (Biharul Anwar).

    Jelas, dilihat dari sisi definisi, ibadah berbeda dengan ma'rifat. Namun, jika kita lihat hubungan keduanya, maka kita akan dapat menilai eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan beribadah kepada Zat yang
    tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat Mahasempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk kesempurnaan jiwa kita, sementara kita tidak melakukan ibadah kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa mustahil dicapai tanpa ibadah.

    Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah membuka khutbah pertamanya dengan ucapan, "Awal agama adalah mengenal-Nya." Maka, awal yang harus diraih seorang hamba dalam ber-ma'rifat adalah pengetahuan tentang penciptanya yang melahirkan suatu keyakinan. Ia tidak akan mencapai suatu keyakinan tanpa pengetahuan.

    Lawan ma'rifat adalah taqlid. Kata ini berarti mengikuti ucapan seseorang tanpa landasan argumen. Maka, taqlid tidak dikategorikan sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan.

    Sehubungan dengan ma'rifatullah dalam pandangan Islam, khususnya mazhab Ahlul Bayt, setiap manusia harus meyakini keberadaan Allah swt dengan berbagai konsekuensi ketuhanan-Nya, karena keyakinan tidak mungkin muncul tanpa landasan ilmu dan argumen. Oleh karena itu, Islam melarang taqlid
    dalam masalah ini.

    Tentu saja, manusia tidak mungkin ber-ma'rifat dan mengenal Zat Allah SWT haqqu ma'rifatih (secara utuh dan sempurna), sebagaimana yang dibuktikan oleh akal. Karena, bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas (makhluk) dapat mengetahui dan menjangkau zat yang tidak terbatas (al-Khaliq) dari berbagai sisi-Nya. Oleh sebab itu, rasul sebagai makhluk yang paling sempurna pernah bersabda dalam penggalan munajatnya, "Wahai Tu-hanku, diriku takkan pernah
    mengetahui-Mu sebagaimana mestinya."

    Hal ini tidak berarti kita bebas dari kewajiban mengenalnya, Imam Ali a.s. pernah menegaskan, "Allah swt tidak menyingkapkan hakikat sifat-Nya kepada akal, kendati Dia pun tidak menggugurkan kewajibannya untuk mengenal
    diri-Nya" (Nahjul Balaghah).

    Setiap ilmu dan ma'rifat, khususnya ma'rifatullah, yang dimiliki oleh setiap individu ataupun suatu komunitas sangat berpengaruh pada perilaku moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita bisa bandingkan mereka yang
    meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut pandangan dunia materialis. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia tidak memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh, anggapan yang
    bermuara dari keyakinan bahwa kebermulaan alam ini dari shudfah (kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa kematian merupakan titik akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian. Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim maupun adil,
    berbudi luhur maupun tercela.

    Maka, ketika anggapan-anggapan tersebut menjadi dasar pengetahuan, sekaligus menjadi dasar keyakinan, mereka hidup sebagai hedonis yang selalu berlomba untuk mencari segala bentuk kenikmatan duniawi dan menganggapnya
    sebagai kesempurnaan sejati yang harus dicari oleh setiap orang, sebelum ajal mencengkeram mereka. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lebih sakral dibanding kenikmatan hidup ini, dan nilai-nilai moral seseorang akan terus berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi dunia dengan berbagai atributnya, sehingga standar etika mereka adalah segala hal yang berkaitan dengan prinsip materialisme dan hedonisme.

    Berbeda dengan pandangan agama samawi, khususnya Islam. Bertolak dari prinsip tauhid3 muncullah keyakinan-keyakinan, seperti adanya tujuan-tujuan pasti yang tak pernah sia-sia di balik penciptaan alam semesta ini,
    termasuk penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT, "Apakah engkau menyangka bahwa telah kami ciptakan dirimu (manusia) dengan kesia-siaan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (Q.S. Al-Mu'minun : 115)

    Oleh karena itu, kematian menurut mereka bukanlah akhir dari kehidupan. Sebaliknya, ia lebih merupakan gerbang awal dari kehidupan abadi. Maka, suatu keniscayaan bagi Allah swt Zat yang Maha adil dan Maha tahu akan setiap gerak perilaku makhluk-Nya, untuk menjadikan suatu alam selain alam dunia ini sebagai tempat pertanggung-jawaban atas setiap perbuatan manusia selama masa hidupnya di dunia.

    Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hanya Allah swt satu-satunya Zat yang Mutlak dari berbagai sifat kesempurnaan, sehingga jika kita dapati kebaikan dan keindahan di alam fana ini, maka itu merupakan bentuk manifestasi penjelmaan) kebaikan dan keindahan-Nya.

    Yang dimaksud dengan "manusia sempurna" adalah suatu derajat di mana manusia telah mampu mencapai bentuk penjelmaan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, sekaligus berhasil menjauhkan diri dari berbagai sifat yang harus
    dijauhkan dari sifat-sifat Allah swt. Hal inilah yang selalu dianjurkan oleh Rasul dalam sabda beliau: "Berakhlaklah dengan akhlak Allah."

    Dalam konteks ibadah sehari-hari, kita selalu dianjurkan berniat untuk taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya. Taqarub di sini mengisyaratkan pada tasyabbuh (penyerupaan diri dengan sifat-sifatNya). Semakin bertambah kualitas dan kuantitas manisfestasi sifat-sifat kesempurnaan Ilahi dalam
    diri asyiq (seorang pecinta Tuhan), niscaya ia semakin dekat dengan ma'syuq-nya (kekasih), begitu pula sebaliknya. Jika manifestasi itu minim dan pudar, atau bahkan tidak ada sama sekali, ia akan selalu jauh dari penciptanya.

    Berbicara tentang penyerupaan sudah menjadi hal yang wajar bagi seseorang mencintai sesuatu. Ia akan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang mengingatkan dirinya kepada kekasihnya seperti; meniru gaya hidup, mencintai apa yang dicintai kekasihnya dan seterusnya. Begitu juga jika ia
    membenci sesuatu, maka ia selalu berusaha untuk melupakan dan menjauhkan diri dari apa yang ia benci. Demikian pula yang dialami oleh pecinta Ilahi.

    Perlu ditekankan bahwa jauh-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya bukan berupa jarak materi, tapi merupakan tingkat manifestasi sifat-sifat Ilahi pada diri hamba tersebut, karena kesempurnaan Ilahi tidak teratas, sementara manusia diliputi oleh berbagai macam keterbatasan. Oleh sebab
    itu, perjalanan untuk liqa' (bertemu) dengan Allah swt pun tidak berbatas.

    Untuk sampai dan bertemu dengan Tuhannya, para salik akan melalui banyak rintangan, berupa hijab (tabir-tabir penghalang) yang harus ia singkirkan untuk sampai pada tujuan yang dia rindukan. itu semua perlu usaha optimal,
    baik berupa pengetahuan yang bersifat teoritis ataupun aplikatif nyata. Karena, tanpa pengetahuan yang maksimal, suluk seorang hamba tidak akan bisa terwujud. Bekal ilmu seorang salik yang terbatas akan menjauhkan diri dari tujuannya. Imam Shadiq a.s. bersabda, "Seorang pelaku perbuatan tanpa landasan pengetahuan ibarat berjalan di luar jalur yang akan ditempuh. Semakin cepat ia bergerak, tidak akan menambah (cepat sampai tujuan), akan tetapi malah semakin menjauh (dari tujuan)." (Ushul al-Kafi)

    Kegagalan perjalanan seorang hamba dalam mencapai tujuannya disebabkan oleh bekal pengetahuan yang tidak cukup, karena pengetahuan yang minim menyebabkan kerancuan memilah baik dari buruk, keyakinan yang benar dari yang salah, juga niat yang tulus dari yang tercemar oleh syirik atau bisikan setan; memperdaya dan menipu dengan berbagai angan dan khayalan, sehingga menerjang apa yang harus dihindari dan meninggalkan apa yang harus dilakukan. Maka, bagaimana mungkin seorang hamba yang rindu bertemu dengan kekasih sejatinya dan mendapatkan keridhoan-Nya, sementara ia menempuh jalan yang tidak diridhai, bahkan dibenci oleh sang kekasih.

    Seperti yang telah kita ketahui ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah. Ilmu tidak akan memberi manfaat apapun bila tidak diamalkan. Allah swt berfirman dalam surat Al-Jatsiah ayat 23, "Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya." Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu tidak menjamin orang untuk mendapatkan hidayah (petunjuk). Sedangkan penyesatan yang dilakukan oleh Allah swt terhadap orang yang berilmu tadi, hanya karena ketaatan mereka kepada hawa nafsu dan ketidaksesuaian amal mereka dengan pengetahuannya.

    Allamah Thabatha'i r.a. dalam tafsir al-Mizan dalam mengomentari ayat di atas menjelaskan bahwa pertemuan ilmu --tentang jalan yang harus ditempuh-- dengan kesesatan bukan suatu kemustahilan. Bukankah Allah swt berfirman, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka sungguh meyakini kebenarannya" (an-Naml:14)..

    Tidak ada konsekuensi antara ilmu dan hidayah atau antara kejahilan dan kesesatan. Akan tetapi, petunjuk (hidayah) merupakan penjelmaan ilmu di mana si empunya (alim) selalu komitmen dengan ilmunya, namun jika tidak, maka kesesatan akan menimpanya walaupun ia berilmu.

    Dalam kehidupannya, terkadang manusia melupakan apa yang disebut dengan maslahat universal yang harus ia raih, sehingga ia lebih mengedepankan maslahat semu di depan matanya dibanding maslahat jangka panjang yang hakiki. Dalam meraih hal semu tersebut tak jarang ia menggunakan dengan cara-cara yang bertentangan dengan perintah Allah dan lebih mengikuti hawa nafsunya, "Terangkan kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya." (Q.S. Al-furqan : 43).

    Oleh karena itu, dalam menuju kesempurnaan abadi dan maslahat hakiki, selain diperlukannya ma'rifat sebagai pondasinya, juga tarbiyah yang dalam bahasa al-Quran disebut tazkiyah (penyucian diri) sebagai salah satu fungsi
    diutusnya rasul, ".Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkannya .." (Q.S. Al-jum'ah : 2). Tazkiyah inilah sebagai pilar utama dari tegaknya bangunan kesem-purnaan jiwa manusia.

    Semoga Allah swt selalu memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dengan perantara Rasul dan keluarga suci beliau. Amin.

    JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH

    Di dalam suatu dalil dikatakan bahwa :
    “Awwaluddin Ma’rifatullah” (Awal mula seseorang itu beragama, ialah mengenal akan Allah)”.
    Dimana seseorang itu wajib hukumnya untuk mengenal akan Allah sebagai langkah awal menuju kesempurnaan beragama. Tanpa mengenal Allah maka Ibadah apapun yang dilakukan bagaimana mungkin bisa dikatakan sampai sedangkan Tujuan nya saja tidak diketahui. Karena itu sangatlah penting sekali pengenalan akan Allah itu di dalam kehidupan ini. Dengan Mengenal akan Allah maka akan dirasakannya Manis Lezatnya ke imanan, dirasakan khusyuknya dalam Amal Ibadah serta Ketenangan Jiwa akan mengalir di dalam dirinya. Menjadikan Pribadi yang ikhlas, sabar, tawakkal serta Ridho dalam menjalani Hidup. Tentu tiada kebahagiaan yang melebihi daripada kebahagiaan para Arif billah/orang yang mengenal akan Allah
    Seandainya Allah Swt membukakan akan rahasia keagungan para Arif billah, maka niscaya orang-orang akan tercengang dan terheran-heran serta takjub dibuatnya. Karena Nur yang meliputi diri para Arif billah itu akan memancar menembus sampai ke langit ketujuh. Karena itu lah Allah menutup akan diri para kekasih-kekasihNya itu, sehingga tidak ada yang mengetahui tentang dirinya melainkan hanya Allah dan mereka-mereka yang sama-sama telah sampai pada maqom Ma’rifatullah tsb.
    Adapun Manusia-manusia itu untuk sampai kepada pengenalan akan Allah (Ma’rifatullah) maka terlebih dahulu ia haruslah mengenal dirinya yang sebenar-benarnya.
    “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Robbahu” (Barang siapa yang mengenal akan dirinya yang sebenarnya niscaya kenal lah ia akan Allah).
    Dan tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah :

    1. Menundukkan Hawa Nafsu dengan memerangi kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, kefasikan dan kemurtadan yang ada di dalam diri dengan menjauhi kesombongan, keingkaran terhadap kebenaran, kebodohan dan ketidak pedulian tentang kebenaran.
    2. Apabila ia telah berhasil di dalam memerangi Hawa Nafsunya tadi maka ia akan di anugrahi Hidayah/petunjuk kepada jalan yang di Ridhoi Allah Swt yaitu jalan menuju kepada Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw, serta dilengkapi ia dengan sifat-sifat Muhammad Rosulullah Saw yaitu Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah serta menjadikan ia Sami’na wa atho’na.
    3. Apabila ia tetap Istiqomah pada tahapan ke-1 dan ke-2 itu maka ia akan disesuaikan oleh Allah Swt dengan Hukum Sunatullah yang berlaku di dalam kehidupan ini. Maka tetapkanlah kesabaranmu di dalam Hukum Allah Swt itu. (Tawakkal/berserah diri kepada Allah dengan meyakini bahwa apa yang terjadi atas dirinya, itu semua Qudrat Iradat Allah Swt semata). Bersabarlah! Dan pasrahkanlah dengan sebenar-benarnya, dan berlaku kasih sayanglah kepada sesama Saudara Mu’min serta menjadilah Rahmat bagi Makhluk Allah Swt yang lain. Tetapi ingatlah!!!, sesungguhnya banyak di antara orang Mu’min Hamba-hamba Allah itu yang terlena di dalam tahapan ini, artinya mereka yang takjub dan hilang kesadaran dirinya karena sangat mempesonanya keindahan-keindahan dan kemuliaan-kemuliaan Allah Swt yang dinyatakan/ditampakkan oleh Allah berupa karomah-karomah membuat ia lupa akan Allah Swt yang menganugrahkan kelebihan-kelebihan itu sehinggan Karomah itulah yang menjadi maksud dan tujuannya. Lalu lupa ia kepada tujuan yang sebenarnya yaitu Allah Swt yang menurunkan Karomah itu. Maka jatuhlah ia kepada jurang kefasikan, kembali dikuasai oleh Hawa Nafsunya. “Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah………….”. Berhati-hatilah di dalam tahapan ini!!!!, tidak ada seorangpun yang selamat dalam tahapan ini melainkan mereka yang benar di dalam memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt, sehingga jadilah Allah sebagai penolongnya dan hanya Allah lah sebaik-baik penolong bagi orang-orang Mu’min.
    4. Kemudian apabila ia telah sampai kepada tahapan itu dengan selamat dan ia senantiasa di dalam kesabaran serta selalu berhati-hati di dalam Musyahadahnya (Penyaksiannya), maka akan tersingkaplah segala Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw dengan sendirinya tanpa ia memaksakan kehendaknya untuk menyingkap tirai itu. Artinya ; Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw itu sendiri yang akan datang menjemputnya untuk di bawa naik (Mi’raj) menuju Alam yang tiada Batas dan dihampirkannnya kepada Kebenaran yang membawa Rahmat yaitu Nurun Ala Nurin sumber segala hakikat-hakikat yang ada termasuk Hakikat Diri atau Hakikat Muhammad. Lalu timbul lah kecintaan yang amat sangat dalam kepada Muhammad Rosulullah Saw, rindu yang tiada habis-habisnya dan diwujudkannya di dalam gerak dan diamnya dengan Sholawat dan puji-pujian kepada Rosulullah Saw. Kecintaannya yang sangat dalam kepada Rosulullah Saw terasa nikmat sekali dirasakannya, sehingga tiada nikmat apapun yang dapat menyamai kenikmatan cinta Rosulullah Saw. Racun kerinduan rela dan ikhlas diminumnya karena kemabukkannya tiada bandingannya. Kemabukkan cinta itulah yang mengahantarkan dirinya kepada Robbul Izzati untuk berkasih-kasihan memadu cinta yang telah lama terpendam.
    Dengan tahapan-tahapan itu akan sampai lah ia kepada Memandang Zat Maha Mutlak yang tiada tara keagungan dan kebesaran-Nya, yang Esa dalam ke Esa annya, dimana segala sesuatu bergantung kepada-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada satupun yang menyamai-Nya.
    Ketika para Pecinta Allah sudah asyik di dalam pandang memandang, maka Allah akan mendudukan ia pada “Maqom Muroqobah” sebagai jalan terbukanya Tirai “Kebenaran Hakiki/Mukassyafaturrobbani”. Itulah Akhir dari pada pengembaraan dan perjalanan dan Itulah Puncak segala Puncak kenikmatan dan kebahagiaan.
    Maka sampailah ia kepada Hakikat di atas Hakikat yaitu Zat Maha Mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat dari segala apa pun tentang diri-Nya.
    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
    Asyhadu Anlaa ilaa ha illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadurrosulullah.

    Menyingkap Tabir Qalbu

    Sepanjang perjalanan ku ke Wonosobo, aku lebih banyak berdiam diri. Duduk sendirian. Tidak sepetah dan tidak semesra biasa seperti waktu aku bersama student-student ku di kolej. Bukan kerana sombong. Tetapi entah mengapa .... suasana di bumi Keraton tempat asal datuk ku menjemput memori bersama arwah datuk ku bertamu ..... Pesanan-pesanan arwah datuk ku datang menerjah satu persatu di minda ku. Antara pesanannya yang datang bartandang ............

    Matlamat manusia dijadikan ALLAH dimuka bumi dan tuntutan agama

    *************************

    Ketahuilah oleh mu, bahawa agama itu terdiri dari dua perkara :



    Pertama : Meninggalkan maksiat
    Kedua : Mengerjakan taat

    Meninggalkan maksiat itu adalah lebih berat dari mengerjakan ketaatan kerana mengerjakan ketaatan adalah mudah bagi setiap orang tetapi meninggalkan maksiat yang disukai oleh syahwat dan nafsu hanya dapat dilaksanakan oleh para siddiqin.

    Sesungguhnya, matlamat manusia dijadikan ALLAH di dunia ialah untuk menjadi hamba NYA. Sebagai seorang hamba sayugialah hendaknya, segala manusia patuh dan taat kepada hukum syariat yang telah ALLAH sediakan melalui firman-NYA di dalam Al Quran serta melalui sunnah Rasulullah SAW.

    Ada pun hukum syariat itu terbahagi lima :

    1. Wajib = dibuat dapat pahala, ditinggalkan berdosa, kedudukannya MESTI buat

    2. Sunat = dibuat dapat pahala, ditinggalkan tak mengapa . kedudukannya ELOK buat

    3. Haram = dibuat berdosa, ditinggalkan dapat pahala, kedudukannya MESTI tinggal

    4. Makruh = ditinggalkan dapat pahala, dibuat tak mengapa, kedudukannya ELOK tinggalkan

    5. Harus = dibuat atau ditinggalkan dosa tak dapat, pahala pun tak dapat, kedudukannya terpulang pada diri sendiri.

    Hendaklah diri mu melaksanakan perintah suruh dari ALLAH iaitu yang wajib dan sunat. Hendaklah juga diri mu melaksanakan perintah tegah dari ALLAH iaitu yang haram dan yang makruh. Maka usahakanlah perkara yang harus menjadi ibadah.

    Inilah matlamat hidup mu di dunia dan inilah juga matlamat perjuangan mu dalam menuju ke negara akhirat, negara yang kekal abadi. Sama ada engkau bersendirian, mahu pun engkau berjemaah.

    Inilah yang dinamakan SYARIAT .....

    **********************************


    Aku termanggu ..... masih basah diingatan ku kata-katanya walau sudah lebih 20 tahun kalimahnya terlafaz. Nasihat berharga yang menjadi warisan turun temurun. Nasihat-nasihat itu juga yang sering ku sampaikan kepada ahli keluarga ku, anak-anak ku dan para pelajar ku.

    Akal ku semakin teruja menggali khazanah kata-kata arwah datuk ku yang tersimpan di kotak fikiran ku ........

    Setiap sesuatu bermula dengan ILMU.

    *********************************

    Dan setiap sesuatu itu hendaklah bermula dengan ILMU. Andai diri mu ingin melakukan kejahatan, hendaklah dengan ilmu. Lebih-lebih lagi jika diri mu hendak melakukan kebajikan dan ketaatan, juga hendaklah bermula dengan ilmu. Maka sewajarnya seorang yang ingin menjadi hamba kepada ALLAH mempunyai ilmu agar kasih sayang, rahmat dan keampunan ALLAH dapat diraih sebagaimana yang dikehendaki oleh ALLAH.

    Dan ilmu yang pertama dan utama adalah ILMU TAUHID, ilmu yang mengenalkan diri mu dengan ALLAH Yang Maha Agung Lagi Maha Kaya. Ilmu yang bersangkut paut dengan persoalan aqidah dan kepercayaan, merangkumi persoalan rukun iman dan kalimah syahadah.

    Dan ilmu yang kedua ialah ILMU FEQAH, terkandung hal ehwal ibadah, munakahat, muamalat dan jenayah. Ilmu yang mengajar diri mu kaedah untuk mengabdikan diri kepada ALLAH.

    Dan ilmu yang ketiga ialah ILMU TASAUF, menyuluh hal ehwal kerohanian atau hati kita, agar tetap lurus mentaati ALLAH dan Rasul NYA tanpa di pesongkan oleh bisikan musuh-musuh ALLAH yang sering mengajak ke arah kemungkaran.

    Ketiga-tiga ilmu inilah dinamakan ilmu syariat. Hukum mempelajarinya adalah FARDHU AIN. Wajib dipelajari dan wajib diamalkan.

    Setelah diri mu mengamalkan syariat , barulah diri mu sudah bersedia melangkah ke jalan TARIQAT.

    Dan orang yang bersungguh-sungguh mengamalkan syariat, mereka melaksanakan segala yang wajib dan berusaha melaksanakan segala yang sunat. Mereka meninggalkan segala yang haram dan berusaha meninggalkan segala yang makruh. Mereka menjadikan perkara yang harus berpahala. Mereka itulah orang yang sebenar-benarnya bertariqat.


    ************************************


    Kitab Tauhid - Risalah Tauhid & Faridatul Faraid

    Kitab Feqah - Matla'al Badrin, Sabilal Muhtadin, Furu' Masail

    Kitab Tasauf - Bidayatul Hidayah, Minhajul Abidin, Al Jauhar Al Mauhub, Al Qatrul Ghaisiyah.

    Itulah antara kitab-kitab yang sempat ku tadah, bertalaqqi bersama arwah datuk ku dan arwah ayah ku.

    Tariqat ... kata dasarnya adalah tariq, iaitu jalan. Tariqat adalah jalan yang dilalui oleh Rasulullah dan jemaah para sahabat. Tariqat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Iaitu jalan yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dan jemaah para sahabat dari segi tauhid, feqah dan tasauf.

    Pesan datuk ku tentang matlamat bertariqat dan syarat bertariqat.


    *************************************

    Hendaklah diri mu sempurna dalam menuntut ilmu syariat yang fardhu ain dan hendaklah diri mu istiqamah beramal dengan syariat. Maka tertegaklah hukum dan kalimah ALLAH di dalam diri mu. Itulah syarat utama dalam menyelusuri ilmu tariqat yang memperteguhkan hati ke jalan iman.

    Tiada yang lain dalam bertariqat melainkan untuk lebih mudah menghampirkan diri kepada ALLAH agar diri mu dapat mengabdikan diri kepada NYA dengan pengabdian yang ikhlas penuh rasa kehambaan. Lantas akan terzahir keindahan dan kemanisan dalam beribadah. Kerana amal tariqat mendidik hati untuk hanya taat dan patuh serta mencintai kepada ALLAH Yang Maha Esa.

    Dan tidaklah dinamakan bertariqat seandainya diri mu masih jahil tentang ilmu syariat. Dan tidaklah juga dinamakan bertariqat seandainya diri mu tidak beramal dengan syariat walau ianya (ilmu syariat) itu di dalam pengetahuan mu. Kerana tertegak jalan tariqat bersandarkan syariat yang terangkum di dalamnya Tauhid, Feqah dan Tasauf.

    Tariqat adalah satu jalan menuju kasih sayang ALLAH. Syariat adalah cahaya penyuluh di atas jalan yang zulumat dan penuh godaan. Jalan tariqat dihiasi godaan dan bujukan dunia, nafsu dan syaitan. Hanya syariat yang mampu membezakan antara seruan iman dan godaan dari musuh-musuh yang ingin menyesatkan. Dan ingatlah, sesungguhnya jalan kebenaran itu pahit dan penuh derita kerana di depannya syurga yang manis. Maka tempohilah jalan tariqat ini berbekalkan ilmu dan amal syariat bersama sifat khauf dan raja’. Agar terhindar dan aman hati mu dari riya’ dan ujub yang memusnahkan amal ibadah mu. Lebih-lebih lagi terhindar diri mu dari tertipu oleh dunia, nafsu dan syaitan yang menyebabkan diri mu terjerumus ke lembah kehinaan di dunia dan di akhirat.

    Ingatlah !!!

    Tiada tariqat tanpa syariat. Tariqat ahli tasauf hanyalah suatu jalan pilihan yang tidak wajib tetapi amat bermanfaat dan bermakna. Hanya layak bagi mereka yang sudah kemas ilmu dan amal syariatnya. Tariqat yang wajib adalah melaksanakan hukum syariat.


    *******************************


    Perlahan ku susun mutiara ilmu arwah datuk ku, agar tekad untuk beramal kembali subur dalam diri ku.


    ******************************

    Carilah oleh mu guru yang mursyid, yang mampu membimbing mu dalam beramal syariat dan beramal tariqat. Guru yang mursyid bukan hanya alim di bidang syariat, malah juga mampu membimbing diri mu beramal dengan syariat. Sifat seorang guru yang mursyid adalah :


    1.Seorang yang berpaling dari mencintai dunia dan berpaling dari mencintai darjat pangkat.

    2.Dirinya berguru dengan guru yang mursyid. Gurunya pula berguru dengan guru yang mursyid. Guru kepada gurunya berguru pula dengan guru yang mursyid dan begitulah rantaian perguruan sehinggalah si guru bersambung perguruannya dengan para sahabat dan Rasulullah SAW.

    3.Seorang yang mampu melaksanakan amal perkara yang wajib dan sunat serta mampu meninggalkan amal perkara yang haram dan makruh. Peribadi dan hidupnya dihiasi dengan amal ibadah. Banyak puasanya, sedikit percakapannya melainkan yang terlafaz hanyalah tarbiah dan dakwah.

    4.Seorang yang indah akhlaknya di mata dan terkesan di hati. Sehingga tiada ruang untuk diri mu mencari cela dirinya.

    Apabila engkau temui guru seperti ini, berbaiahlah kepadanya dan pintalah ijazah daripadanya. Nescaya hidup mu terpimpin dan terdidik oleh sang murabbi. Kerana dirinya terserlah nur dari anwar Rasulullah SAW yang layak untuk diikuti. Kerana bukan mudah untuk umat manusia temui guru yang mursyid sebagaimana sukarnya menemui belerang yang merah.

    Andainya engkau masih belum temui guru yang mursyid, maka dekatilah guru bersifat murabbi sambil diri mu berusaha mencari syeikhul mursyid. Dan ingatlah bahawa bahawa tugas sebagai seorang murabbi menuntutnya untuk memikul tanggungjawab yang berat.

    Tanggungjawab tersebut adalah :

    Pertama : Dirinya harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri.

    Kedua : Dirinya mengikuti teladan dan contoh Rasulullah SAW dalam erti tidak boleh mengharapkan imbalan dan upah dari pekerjaannya selain mendekatkan diri kepada Allah.

    Ketiga : Dirinya harus mengingatkan muridnya bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk kekuasaan dan kebanggan diri.

    Keempat : Dirinya harus mencegah muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat.

    Kelima : Dirinya tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan muridnya

    Keenam : Dirinya mengajar murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka.

    Ketujuh : Dirinya harus mengajarkan kepada murid yang terbelakang dengan jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas.

    Kedelapan : Dirinya harus melakukan terlebih dahulu apa yang diajarkannya dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya.

    Inilah sifat dan syarat seorang guru mursyid yang bakal menjamin kejayaan dalam membimbing murid meniti di jalan tariqat berpandukan syariat.

    ******************************

    Datuk ku pernah berpesan tentang jalan duniawi yang penuh godaan yang menipu daya. Datuk ku juga pernah berpesan tentang jalan tariqat yang juga penuh godaan yang menipu daya tetapi punya jalan keselamatan.

    ****************************

    Dan ingatlah, bahawa telah ramai salik (orang yang ingin menghampirkan diri kepada ALLAH) yang tertewas di jalan menuju ALLAH. Kerana ghurur (tertipu) dek kerana menyahut godaan dunia, nafsu dan syaitan. Kesemuanya musnah kerana berjinak-jinak dengan sifat ujub dan riya’.

    Telah ramai para salik dan ahli kerohanian yang tertipu dengan amalannya kerana UJUB dan RIYA'.

    Syariat adalah penyuluh jalan tariqat. Tariqat adalah jalan yang menuju destinasi cinta hakiki. Bukannya matlamat. Matlamat dalam bersyariat dan tariqat adalah menjadi hamba yang sebenar-benar hamba yang mengabdikan diri hanyasanya kepada ALLAH. Tanda kasih saying dan ampunan ALLAH dicapai ialah rasa HAKIKAT.


    Maka telah ramai salik yang terpedaya dengan tipuan dunia, nafsu dan syaitan.

    Rasa-rasa hati, pengalaman kerohanian ciptaan syaitan, menyebabkan para salik tertewas dan tersungkur jatuh di saat akhir perjuangan.

    Ingatlah !!!

    Ada empat perkara seseorang dianugerahkan pengalaman kerohanian.

    1.Pertama : Kerana dirinya dicipta dan dilahirkan untuk mendapat kasih saying ALLAH. Mereka inilah para Rasul dan para Nabi.

    2.Kedua : Kerana dirinya berusaha menuntut ilmu syariat dan beramal dengan ikhlas lalu ALLAH sayangkan dirinya lalu ALLAH rezekikan dengan pengalaman kerohanian.

    3.Ketiga : Kerana menumpang berkat orang yang soleh.

    4.Keempat : Kerana dirinya banyak melakukan dosa dan mungkar tetapi masih mampu mengalami pengalaman kerohanian. Maka tidak lain ianya adalah istidraj. Agar behagiannya di akhirat nanti hanyalah azab siksaan.

    Oleh itu wahai salik, andai diri mu beroleh pengalaman kerohanian, sayugia rujuklah ianya kepada mursyid mu agar diri mu tahu antara empat sumber, sumber yang manakah pengalaman kerohanian itu bermula.



    2011 ... sekali lagi ku jejakkan kaki ku di Wilayah Istimewa Yogjakarta .... tempat kelahiran arwah datuk ku .... sejak tiba ... tidak putus SMS dari kaum keluarga ku di situ yang menjemput ke rumah mereka di Bata Ganting, daerah Kraton.... maaf ahlil bait ... aku ada urusan lain ... insyaALLAH aku akan ke sana bulan hadapan ....



    Pelabuhan Selatan, Yogjakarta .... disitulah tempat mendaratnya Sayyid Umar Abd Rahim Sutodrono As Syaibani sekitar tahun 1770-an dari Hadramaut .... dari situ musafirnya terhenti di Wonosobo yang mengambil masa perjalanan 10 jam dengan bas, merentasi banjaran gunung dan lereng curam .... Bagaimana agaknya tahun 1770-an ? Dulu tidak ada pengangkutan modern dan jalan tar ... mungkin juga daerah Wonosobo merupakan hutan belantara ... Hanya orang yang benar-benar mempunyai tekad dan misi yang bisa menerobos jalan dan membina penempatan di daerah ini.

    Aku sempat meninjau tapak rumah tempat kelahiran Syeikh Muhammad Bin Abdullah As Suhaimi di Sudagaran, Wonosobo. Sebuah masjid gagah berdiri di bekas tapak rumahnya. Di situlah bermula perjuangannya.

    Dari Sudagaran ke Kaligantung .... dari lembah permai ke kemuncak banjaran yang damai .... Lokasi yang strategik bagi membina kubu pertahanan ... dan menjadi tempat yang cukup tenang untuk beruzlah ... Di era 2011 juga terasa betapa mencabar melalui jalan di lereng banjaran untuk ke Kaliguntung .... apatah lagi di tahun 1770-an yang segala-galanya serba kuno .... HANYA YANG BENAR-BENAR MEMPUNYAI CITA-CITA yang bisa bertapak di situ .....

    Sayid Umar Abdul Rahim As Syaibani .... merantau dari Hadramaut ke Yogjakarta, Pulau Jawa ... bersama satu misi .... MENEGAKKAN HUKUM SYARIAT ALLAH di muka bumi ini .... Sekitar tahun 1825 hingga 1830 ... berlaku Perang Jawa atau Perang Deponogoro. Perang yang mengorbankan 200,000 jiwa demi mempertahankan Islam dari dinoda oleh kekufuran Belanda .... Syeikh Umar Abdul Rahim As Syaibani berdiri di sisi Pangeran Deponogoro sebagai senapati (disebut Dewa Perang oleh tentera Hindu yang bersekongkol dengan Belanda) yang tak pernah gentar berdepan dengan Belanda. Malah namanya adalah sebaris senapati (Panglima Besar) kepada Pangeran Deponogoro yang lain seperti Kiai Maja dan Sentot Alibasyar. Bedanya cuma, nama Sayid Umar Abdul Rahim As Syaibani tidak tercatat sebagai senapati yang menyerah diri kepada Belanda setelah Perang Deponogoro berpihak kepada Belanda. Kerana jasanya dalam jihad Deponogoro, Sayid Umar As Syaibani di anugerahkan gelaran SUTODRONO.

    Hanya orang yang mempunyai IMAN yang teguh saja yang mampu mengharungi segala kepayahan demi melihat kalimah ALLAH tertegak di muka bumi.

    Dan fikiran ku melayang lagi .... satu persatu kata-kata pesanan arwah datuk ku datang bertamu .... intipatinya pernah ku coretkan dalam notes ku di link Rahsia Iman ... Kunci Cinta Sejati (http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/08/rahsia-iman-kunci-cinta-sejati.html)

    Tentang IMAN .....

    *****************************

    Ketahuilah oleh mu bahawa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada manusia yang lain. Dan tiadalah yang lebih berharga melainkan memberi manfaat iman dan Islam. kerana iman itu harta yang paling berharga, kerana iman yang sebesar zarah mampu menyelamatkan diri dari menjadi bahan bakar api neraka.

    Sesungguhnya orang yang sebenar-benar beriman ialah seperti disebut oleh ALLAH di dalam Al Quran (Al Anfal : 2) :

    إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُہُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٢

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifat Nya) gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah. (Al Anfal : 2)

    Andainya diri dan hati mu masih tidak terkesan dan gementar tatkala kalimah ALLAH dilafazkan, sedarilah bawa diri mu masih jauh dari iman yang haq dan pastinya lebih jauh dari sifat TAQWA, kerana iman yang haq itu adalah sesuatu yang dibenarkan oleh hati, diiqrarkan dengan lisan dan di amalkan dengan perbuatan. Inilah takrifan iman.

    ************************************

    Itulah antara ungkapan muqaddimah arwah datuk ku sebelum mensyarahkan persoalan iman dari Kitab Al Jauhar Al Mauhub di madrasah usangnya yang hanya menempatkan anak-anak fakir miskin dan yatim .....

    Sedikit sebanyak, cara-cara mendapatkan iman dan menguatkan iman demi kebahagaiaan dan ketenangan hati, pernah ku tulis dalam notes ku berdasarkan syarahan arwah datuk ku. Sahabat-sahabat sekelian boleh membaca semula di link berkenaan (http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/08/jalan-iman.html)

    Iman adalah syarat untuk mencapai maqam taqwa ... Taqwa itu penting kerana ......

    *************************************

    Dan ingatlah, bahawasanya nilai manusia di sisi ALLAH itu bukanlah disebabkan oleh pangkat dan nasab keturunan. Tidak juga kerana ilmu yang menggunung. Lebih-lebih lagi bukan harta yang terkumpul.

    Seseorang yang kuat berjuang, gelaran selayaknya hanyalah mujahid.

    Seseorang yang luas lautan ilmunya, gelaran selayaknya hanyalah alim.

    Seseorang yang banyak ibadahnya, gelaran selayaknya hanyalah a'bid.

    Seorang yang banyak bersedekah, gelaran selayaknya hanyalah munfiq.

    Seorang yang gigih berdakwah, gelaran selayaknya hanyalah da'ie.

    Kesemuanya belum tentu layak beroleh gelaran muttaqin (yang betaqwa) di sisi ALLAH, kerana mereka belum tentu selamat dari ujub dan riya'.

    Ada pun, taqwa itu adalah melakukan segala apa yang ALLAH suruh dan meninggalkan segala apa yang ALLAH tegah.

    Andainya engkau mahu dicintai ALLAH, rebutlah maqam taqwa. Kerana taqwa menjanjikan ketenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat ....

    ********************************************

    Taqwa, nilai manusia disisi ALLAH ... sejauh mana usaha kita untuk mencapai maqam taqwa ? Aku pernah menulisnya dalam notes ku di link berikut. http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/10/taqwa-nilai-manusia-di-sisi-allah.html

    Sebagaimana tidak jemu Khatib memberi pesanan taqwa di atas mimbar setiap Jumaat. Begitu jugalah arwah datuk ku yang tidak lepas memberi pesanan taqwa. Kerana hanya taqwa yang menjadi nilaian di sisi ALLAH. Bukan pangkat dan nasab keturunan, harta yang bertimbun dan . Ini hakikatnya ....

    Masih basah diingatan ku ...intipati khutbah Jumaat oleh arwah datuk ku seminggu sebelum dia kembali ke rahmat ALLAH ....

    ************************

    Wahai para hartawan .... ingatlah .... timbunan harta mu tidak bernilai di sisi ALLAH tanpa sifat taqwa. Andainya engkau bermegah-megah dengan kemewahan mu di kala jiran mu kebuluran, bersedialah menghadapi hisab yang amat berat di mahsyar. Hanya sifat taqwa yang bisa menyelamatkan mu dan mendidik diri mu menjadi bayangan Saidina Abdul Rahman Bin Auf.


    Wahai para umarak ... ingatlah .... kekuasaan mu hanyalah bagai segelas air di tengah padang pasir. Di kala engkau kehausan, takhta, kekuasaan dan kebesaran sudah luput dari hati sanubari mu. Yang engkau dambakan hanyalah segelas air di tengah padang pasir. Begitulah bidalan kerajaan milik mu yang TIDAK SETARA kerajaan milik ALLAH kerana nilaian ALLAH hanyalah taqwa. Sejauh mana engkau mampu melaksanakan yang wajib dan sejauh mana engkau mampu menjauhi yang haram dan menghiasi hidup mu dengan amalan sunat, sejauh itulah nilaian ALLAH atas amal taqwa mu. Malah kerajaan dan rakyat milik mu menjadi bebanan buat diri mu atas kemungkaran dan maksiat yang mereka lakukan. Sedarlah bahawa sebelah kaki mu di dalam syurga dan sebelah lagi di dalam neraka. Maka perbanyakkanlah taubat agar subur rasa kehambaan dalam diri mu. Lantas engkau tidak akan berpaling dari kebenaran sebagaimana Umar Abdul Aziz yang meratai keadilan kepada rakyatnya hingga serigala bisa duduk sekandang bersama kambing gembalaan.


    Wahai para ulamak .... ingatlah .... lautan ilmu mu tidak berguna andainya engkau tidak terjun ke tengah masyarakat untuk mendidik mereka ke jalan iman dan taqwa. Andainya diri mu lalai dan berpaling dari menjadi murabbi, nescaya malanglah nasib mu di akhirat sana. Ilmu mu itu sendiri yang akan mencampakkan diri mu ke lembah azab sengsara. Maka suburkanlah sifat taqwa dalam diri mu agar ilmu mu menjadi jariah buat mu di akhirat sana. Ketahuilah, bahawa iman dan Islam itu tidak mengenal batas sempadan negara dan bangsa. Selagi kudrat mu masih bernyawa, sampaikanlah ilmu dan didiklah umat sebagaimana Abu Hassan Al Asy'ari, Muhammad Bin Idris As Syafie dan Abu Hamid Mohamad Al Ghazali, agar umat ini kenal Tuhan yang selayaknya di sembah dan kenal akan hukum syariat ALLAH SWT.

    Wahai para bangsawan .... ingatlah .... bahawa iman dan taqwa itu bukan warisan. Sejauh mana engkau mentaati perintah ALLAH dan sejauh mana engkau menjauhi larangan ALLAH, sejauh itulah kasih sayang ALLAH bersama diri mu. Andainya diri mu masih berlazat-lazatan dengan dosa dan kemungkaran, tiada erti nilai kebesaran dan keagungan darah nasab keturunan. Kerana yang di nilai oleh ALLAH di akhirat kelak HANYALAH TAQWA. Walau setinggi mana mulia nasab keturunan mu, apakah sama dengan amalan Mus'ab Bin Umair ? Walau lahirnya sebagai bangsawan, hidupnya bagaikan fakir miskin dan matinya sebagai syuhadak. Ketahuilah oleh mu bahawa medan Uhud menjadi saksi bahawa jasad syuahadak Mus'ab Bin Umair hanya ditutupi oleh pelepah tamar kerana kefakirannya diluar kemampuan untuk memiliki kain yang mencukupi. Andainya amalan mu tidak setara Mus'ab Bin Umair, sedarilah bahawa diri mu masih jauh dari sifat taqwa dan masih jauh untuk di nilai oleh ALLAH sebagai muttaqin.


    Wahai para da'ie .... ingatlah .... segigih mana usaha mu menyeru ke arah ma'aruf dan mencegah kemungkaran, tak kan sama pengorbanan para sahabat Rasulullah SAW di jalan ALLAH, lebih-lebih lagi takkan sama pengorbanan Rasulullah SAW yang menggadaikan keseluruhan hidupnya untuk iman dan Islam. Tanyailah diri mu, apakah kemahsyuran yang kau dambakan dalam berdakwah atau apakah nikmat iman dan Islam menjadi milik umat manusia yang ingin kau wariskan ? Apakah setara usaha dakwah mu dengan Muaz Bin Jabal yang berjalan kaki dari Madinah ke bumi Yaman semata-mata menyampaikan seruan Islam tanpa meminta upah walau setitis air mahu pun sebutir gandum ? Ketahuilah, sesungguhnya jalan menuju ALLAH itu penuh onak, ranjau dan kepahitan ... kerana di hujung perjalanan itu adalah syurga yang manis. Maka berlemah lembutlah, berlemah lembutlah, lantas berani kerana benar !!! Kerana ini adalah salah satu sifat taqwa.


    Wahai para sufi .... ingatlah .... tanggungjawab mu bukan sekadar berwirid zikir, tetapi lebih kepada menghampirkan diri kepada ALLAH. Sayugianya orang yang hampir kepada ALLAH menjadi juara dalam mendidik masyarakat ke arah iman dan taqwa. Kerana dengan hampirnya diri mu kepada ALLAH, maka tersingkap segala rintangan dan dipermudah segala urusan berkat kasih sayang dan rahmat ALLAH kepada mu. Anugerah sufi tidak sepatutnya menjadikan diri mu jumud dan berselindung di sebalik tasbih dan suluk untuk tidak berjuang. Sebaliknya engkaulah yang sepatutnya memimpin umat ke arah melaksanakan titah perintah ALLAH dan menghindari larangan ALLAH sebagaimana Muhammad Al Fateh dan Salahuddin Al Ayyubi.

    Wahai para muslimin ... ingatlah .... sebanyak mana dan segigih mana engkau beribadah .... jangan sesekali hati mu berjinak-jinak dengan rasa ujub dan riya'. Ketahuilah, bahawa ujub dan riya' itulah pemusnah segala amalan. Sedekah para hartawan tiada nilai di sisi ALLAH kerananya. Khidmat para penguasa dan umarak tiada nilai di sisi ALLAH kerananya. Ilmu para alim ulamak tidak menjadi jariah kerananya. Kemuliaan nasab keturunan menjadi hina kerananya. Pengorbanan para da'ie menjadi debu bererbangan kerananya. Zikir, wirid dan alam kerohanian para sufi menjadi tipu daya semata kerananya. Dan hakikatnya adalah, Azazil menjadi Iblis kerananya.

    Ketahuilah oleh mu bahawa jalan ujub dan riya' bukan dari jalan tariqat dan bukan dari jalan menuju ALLAH. Andainya rasa ujub dan riya' itu yang engkau pilih, sama sekali binasalah hidup mu di dunia dan azab sengsaralah diri mu di akhirat.

    *************************


    Lamunan ku terhenti .... aku sudah sampai di Kaliguntung untuk menziarahi Yang Umar Sutodrono .... semoga ALLAH mengharumkan pusara mu dengan haruman yang semerbak dan sejahtera ............



    Perjalanan menuju ke Alas Ketonggo bermula ...

    Fikiran ku kembali melayang .... teringat kisah para auliya yang sering diceritakan oleh arwah datuk ku kepada kami adik beradik setiap kali menjelang larut malam.

    Bertemankan lampu karbaid, atok akan duduk bersila di sebelah tempat pembaringan kami adik beradik sambil mata tuanya menatap Kitab Tazkiratul Auliya' oleh Sheikh Fariduddin Attar.


    Wajahnya yang semakin di mamah usia, tekun membaca kitab kuning tersebut dan melafazkan kisah-kisah para kekasih ALLAH. Gaya bahasa dan cara olahan ceritanya bagaikan atok berada dan melihat sendiri kisah-kisah mereka.

    Kakak ku gemar mendengar kisah Rabiatul Adawiyah .... Abang ku menggilai Yazid Bustami ..... Abang ku yang seorang lagi tersentuh kisah Malik Bin Dinar .... Adik ku meminati kisah sementara Hassan Al Basri .... sementara aku pula meminati kisah Uwwais Al Qarni ....

    Abang : Loratlah kau ni ... balik-balik Uwwais Al Qarni. Ada banyak lagi cerita wali laaaa ... (herdik abang ku yang mungkin jemu atas pintaan ku kepada atok ku)

    Kakak : Dah ulang berapa kali cerita tu. Kita dengar cerita yang lain pulaklaaa .... (kakak ku mengomel, mungkin kerana dia ingin mendengar kisah Rabiatul Adawiah)

    Adik : Cerita Uwwais Al Qarni tak banyak keramatlaaa …………

    Antara kisah-kisah para wali ALLAH, kisah kekeramatan yang aneh dan pelik, kekeramatan Uwwais Al Qarni yang jarang diceritakan. Sesuai dengan tarafnya sebagai seorang YANG TIDAK TERKENAL DI BUMI tetapi amat terkenal di langit.

    Dan aku teringat cerita arwah atok ku berkenaan TINGKATAN PARA WALI

    *********************

    1. AQTAB (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Juga disebut Al Ghaits (Penolong). Bilangannya hanya ada seorang pada setiap zaman. Tidak berlebih dan tidak berkurang. Ia adalah pemimpin bagi satu golongan (Qutub) pada zamannya, dan ia mempunyai kekuatan jasmani dan rohani yang tinggi. Pendekata ia adalah pemimpin yang amat berkuasa. Terkumpul dalam dirinya semua hal dan maqam. Dirinya menjadi penyelesai kepada semua masalah baik yang zahir mahu pun yang tersembunyi.

    2. AIMMAH (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Memberi makna “para pemimpin”. Bilangannya hanya ada dua pada setiap zaman. Tidak berlebih dan tidak berkurang. Aqtab bertindak sebagai penguasa (raja) maka Aimmah bertindak sebagai para menterinya. Bila Aqtab meninggal dunia, tempatnya akan digantikan oleh salah seorang Aimmah. Seorang mengetahui tentang alam malakut (alam ghaib rohani) dan seorang lagi mengetahui alam mulk (alam dunia jasmani).

    3. AUTAD (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Bilangannya hanya empat pada setiap zaman. Tidak berlebih dan tidak berkurang. Seorang di daerah Utara. Seorang di daerah Selatan. Seorang di daerah timur. Dan seorang di daerah barat. Arahnya boleh dilihat dari Kaabah. Gelaran-gelaran mereka ialah Abdul Hayyi, Abdul A’lim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.

    4. ABDAL (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Abdal adalah sebutan jamak, sementara Badal adalah sebutan tunggal. Bilangannya hanya tujuh pada setiap zaman. Tidak berlebih dan tidak berkurang. Bertugas menjaga tujuh wilayah. Seorang mengikut jejak Nabi Ibrahim AS. Seorang mengikut jejak Nabi Musa AS. Seorang mengikut jejak Nabi Harun AS. Seorang mengiut jejak Nabi Idris AS. Seorang mengikut jejak Nabi Yusuf AS. Seorang mengikut jejak Nabi Isa AS. Seorang mengikut jejak Nabi Adam AS. Tugasnya menjaga kemaslahatan di sesuatu wilayah. Bila Badal ingin meninggalkan wilayahnya untuk menyelesaikan permaslahan sejagat atau untuk bertaqarrub kepada ALLAH atau untuk menghadiri Majlis Para Wali, Badal itu akan meninggalkan seseorang yang mirip dengan dirinya untuk mengawasi wilayah yang ditinggalkannya. Untuk mencapai maqam ini, hendaklah banyak berlapar, bangun malam, diam dan uzlah.

    5. NUQABA (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Bilangannya hanya 12 pada setiap zaman. Tidak berlebihan dan tidak berkurangannya. Bilangannya sama dengan bilangan bulan hijrah, dan menyamai dengan bilangan gugusan bintang (galaksi) dan tata suryanya. Setiap Naqib (nama tunggal bagi Nuqaba) mengetahui khasiat dan hal ehwal bagi setiap gugusan bintang. Sangat alim akan SYARIAT, mampu menyingkap isi hati setiap insan dan mengetahui segala yang tersembunyi baik tipu daya nafsu, godaan syaitan, hatta amat mengetahui tentang Iblis itu.

    6. NUJABA (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Bilangannya hanya lapan pada setiap zaman. Tidak berlebihan dan tidak berkurangan. Mempunyai kekuatan kerohanian yang tinggi walau mereka tidak mengusahakannya. Tidak siapa yang mengenal mereka melainkan orang yang maqamnya lebih tinggi dari mereka. Tetapi pada dirinya terserlah tanda-tanda kekeramatannya.

    7. HAWARIYYUN (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Bilangannya hanya satu pada setiap zaman. Tidak berlebihan dan tidak berkurangan. Tugasnya adalah untuk membela agama, sama ada bersenjatakan pedang mahu pun bersenjatakan hujjah. Ia dikurniakan ALLAH ilmu, ketekunan beribadah, hujjah, kemahiran berpedang, keberanian, dan keteguhan. Maqamnya adalah mempertahankan kebenaran agama sebagaimana yang di SYARIATkan.

    8. RAJABIYYUN (Semoga rdha ALLAH atas mereka) : Bilangannya empat puluh pada setiap zaman. Tidak kurang dan tidak lebih. Tugas mereka hanya untuk mengagungkan Allah.Terlalu sedikit orang yang mengetahui dan mengenal mereka. Mereka tersebar di beberapa tempat, tetapi mereka saling kenal-mengenal antara satu sama lain. Dinamakan Rajabiyyun kerana kekuatan kerohaniannya berada ditahap paling tinggi di bulan Rejab. Di hari pertama bulan Rejab, seorang Rajab merasa sangat berat seperti sedang memikul beberapa lapis langit, sehingga tidak mampu mengerdipkan mata dan menggerakkan anggota badan. Ia hanya mampu berbaring dan sama sekali tidak mampu bergerak, berdiri, duduk, menggerakkan tangan dan kaki, atau mengerdipkan mata. Keadaan tersebut berkurang sedikit demi sedikit pada hari kedua dan ketiga bulan Rejab. Lalu ia mengalami mukasyafah, tajaliyyat, dan mampu mengetahui hal-hal ghaib. Akan tetapi ia masih tetap dalam keadaan berbaring. Setelah dua atau tiga hari, ia baru mampu berbicara sampai akhir bulan. Apabila bulan Rejab telah habis dan masuk bulan Syaaban, barulah ia mampu berdiri seperti terlepas dari jeratan. Keadaan para Rajab ini aneh dan tidak diketahui sebabnya dan hanya terjadi di bulan Rejab.

    9. KHATMU (Semoga redha ALLAH atas mereka) : Bilangannya hanya ada satu sepanjang zaman, hanya ada satu di dunia. ALLAH menutup kewalian umat Muhammad SAW dengan kemunculannya. Tidak ada wali dari kalangan umat Muhammad SAW yang lebih besar daripada dia. Dia adalah penutup (khatm) terakhir yang dengannya ALLAH menutup kewalian yang ada dalam seluruh umat sejak Adam sampai wali yang terakhir. Dia adalah Nabi Isa AS.



    Perjalanan di Alas Ketonggo diteruskan … merentasi denai dan belukar. Mengharungi arus jeram. Sambil fikiran ku masih melayang dan mengelamun akan pesanan-pesanan arwah datuk ku …

    Apakah perasaan mu tatkala kamu berada di dalam istana sebagai seorang tetamu yang amat dihormati oleh ahli istana ?

    Apa pula perasaan mu tatkala ketibaan mu di sambut penuh meriah bersama pukulan kompang, sambil direnjis air mawar dan kamu berjalan di atas permaidani merah yang dihamparkan buat mu oleh ahli-ahli istana ?

    Apa pula perasaan mu tatkala kamu dihidangkan dengan juadah hidangan yang lazat dan diri mu bersantap bersama barisan orang kenamaan di dalam istana ?



    Pasti ianya suatu pengalaman yang tak kan luput dari ingatan mu .....

    Apakah perasaan mu tatkala kamu bertamu ke tempat guru mu sedangkan guru mu amat merindui untuk bertemu dengan mu ?

    Apakah perasaan mu pula pabila ketibaan mu disambut oleh guru mu dengan tasbih dan tahmid sambil haruman ambar kasturi yang semerbak harum sejahtera menyelubungi diri mu ?

    Apakah pula perasaan mu bila diri mu disajikan dengan santapan rohani penguat iman agar diri mu terus kekal atas kalimah tauhid agar diri mu terus menjadi hamba ALLAH yang mengabdikan diri kepada ALLAH sebagaimana diajar oleh guru mu ?

    Pastinya ia merupakan satu rezki buat hati nurani mu. Rezki berkat yang mengundang rahmat dan maghfirah ALLAH SWT ......

    Arwah datuk ku pernah berpesan ........


    ********************************************

    Ketahuilah oleh mu ... bahawa karomah yang agung itu bukanlah seperti karomah Barsyisa yang mampu berjalan di udara. Bukan juga karomah yang agung itu seperti karomah Rijalul Ma' yang sujud kepada ALLAH bertahun-tahun di dasar lautan. Bukan juga karomah yang agung itu seperti karomah Imam Taqiyudiin yang mampu berjalan dan bersolat di atas air. Bukan juga karomah yang agung itu seperti karomah Ibrahim Adham yang mampu berbicara dengan pepohon dan haiwan.

    Tetapi ... karomah yang agung itu adalah bila engkau mampu mendidik orang-orang jahat yang fasiq untuk menjadi orang yang beriman iyyan, kerana ianya mampu menyelamatkan umat manusia dari menjadi bahan bakaran api neraka ........

    Oleh itu janganlah engkau terpesona dan tertipu dengan keajaiban atau pun keanehan. Lebih-lebih lagi yang terjadi dari golongan mutaakhirin yang peribadi mereka masih jauh dari peribadi salafussoleh. Kerana sesungguhnya nilai manusia di sisi ALLAH ialah sejauh mana manusia itu mampu melaksanakan yang wajib dan sunat serta meninggalkan yang haram dan makruh. Oleh itu tetaplah diri mu atas jalan iman, menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai panduan. Semoga engkau terhindar dari terjerumus ke lembah ghurur (tertipu) yang hina.


    *********************************

    Alam kerohanian merupakan alam yang luas. Ramai para salik yang tertewas akibat persiapan ilmu dan amal syariat yang tidak sempurna. Sebagai panduan dan jalan keselamatan, Imam Al Ghazali menulis dalam kitabnya Minhajul Abidin akan panduan yang perlu ditempuh oleh seseorang salik untuk menuju kepada ALLAH. Ringkasan intipati Minhajul Abidin adalah dihidangkan di notes JALAN IMAN (http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/08/jalan-iman.html)

    Antara sebab musabab kegagalan seseorang dalam menuju kepada ALLAH adalah disebabkan NIAT. Ramai yang beramal, tetapi niatnya semata-mata bukan untuk ALLAH, tetapi mempunyai cabang-cabang niat yang lain. Ada yang ingin mendapatkan pengalaman kerohanian. Ada yang ingin mendapatkan kemahsyuran. Ada yang ingin mendapatkan pangkat dan pujian. Ada yang memasang niat untuk beroleh keajaiban (karomah). Malah tidak kurang juga yang menyimpan niat untuk bersifat ujub dan riya’.

    Sifat ujub dan riya’ pernah dihuraikan berdasarkan Kitab Siiras Salikin oleh Sheikh Abdus Samad Al Falembani di notes The Ultimate Destroyer (http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/11/ultimate-destroyer.html)

    Hakikatnya, keajaiban, kekeramatan, kemahsyuran, kekayaan, pangkat, pujian, kemuliaan nasab keturunan dan sebagainya bukanlah kayu ukuran sebenar dalam urusan mentaati ALLAH. Sebaliknya kesemua itu adalah ujian dari ALLAH, sama ada kita mampu menjadi hamba-NYA yang bersyukur. Seandainya kita mampu bersyukur, pastinya ALLAH akan menambahkan nikmat yang ada pada kita dengan nikmat-nikmat yang lain. Dan nikmat ALLAH yang terbesar yang pernah ALLAH anugerahkan kepada makhluk ciptaan-NYA adalah nikmat iman dan Islam. Iman mempunyai pelbagai tingkatan. Tingkatan yang mula menjamin keselamatan adalah tingkatan Iman ‘Iyyan.

    Orang yang beriman dengan tingkatan 'iyaan, akan meletakkan dirinya sebagai seorang hamba walau di dunia dia memiliki pangkat dan jawatan yang tinggi pada kaca mata manusia. Hatinya sentiasa ingat pada Allah. Ketika bersendirian, dia mampu mengalirkan air mata kerana ingat kepada Allah. Ibadahnya khusyuk, tak leka dalam solat. Hati mereka sensitif dengan Allah. Mereka akan bersifat zuhud. Mereka mampu mendidik diri, ahli keluarga dan masyarakat untuk mengamalkan Islam. Mereka sentiasa dibantu oleh Allah jika berdepan dengan masalah. Jika berlaku musibah dia bersabar dan redha. Jika diberi nikmat, dia bersyukur dan tidak sombong. Mereka sentiasa merasakan diri mereka hina dan berdosa sambil terus memohon dan bermunajat pada Allah tanpa rasa putus asa. Jika berlaku masalah atau ditimpa musibah, dia akan muhasabah diri untuk menilai kejahatan diri sendiri. Jika dia melakukan dosa, dia akan segera bertaubat tanpa lengah. Mereka inilah yang DIPERMUDAHKAN hitungan amal mereka di akhirat dan dipermudahkan bagi mereka untuk memasuki syurga Allah.

    Huraian lanjut berkenaan persoalan iman ini saya pernah bahaskan berdasarkan Kitab Al Jauhar Al Mauhub Wa Munabbihat Al Qulub oleh Sheikh Ali Bin Abdul Rahman Al Kelantani dalam notes Rahsia Iman … Kunci Cinta Sejati (http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/08/rahsia-iman-kunci-cinta-sejati.html)

    Maka sebab itu ALLAH hanya akan menilai sejauh mana kasih dan sayangnya ALLAH kepada seseorang insan adalah berdasarkan sejauh mana taqwanya kepada ALLAH. Dan sesungguhnya taqwa itu adalah melaksanakan apa yang ALLAH suruh sama ada yang wajib dan sunat serta meninggalkan segala yang ALLAH larang sama ada yang haram mahu pun yang makruh. Huraian atas nilai taqwa saya pernah bincangkan berdasarkan Kitab Faridatul Faraid oleh Sheikh Ahmad Ibnu Muhammad Al Fatani di notes TAQWA : Nilai Manusia Di Sisi ALLAH (http://musafirseoranghamba.blogspot.com/2010/10/taqwa-nilai-manusia-di-sisi-allah.html)

    Ayuhlah kita bersama-sama berusaha atas iman dan taqwa, kerana sebaik-baik bekalan untuk kita kembali ke rahmat ALLAH di akhirat kelak adalah bekalan iman dan taqwa. Dan ingatlah .... Lembah yang rendah yang mampu menakung curahan air hujan yang banyak berbanding kolam air di puncak gunung. Begitu jugalah ilmu ALLAH yang dianugerahkan kepada hamba-hamba NYA. Hanya hati yang merendah diri dengan rasa tawadduk penuh kehambaan yang mampu menakung curahan ilmu menjadi lautan, bukan hati yang sombong dan takabbur